Memulihkan Jaringan Telekomunikasi Seluler

Bencana alam, siapa pun tak pernah mengharapkannya. Namun, jika gempa 5,9 skala Richter tiba-tiba mengguncang Yogyakarta dan sebagian Jawa tengah pada 27 Mei lalu, apa mau dikata.

Sabtu pukul 06.30 WIB, setengah jam setelah terjadi gempa, semua lalu lintas komunikasi ke dan dari wilayah gempa baik yang telepon tetap maupun ponsel sangat sulit. Saat itu semua panggilan berakhir dengan bunyi tut… tut…, gagal melakukan panggilan.

Network Operation Yogyakarta dalam organisasi XL masuk wilayah Sentral yang mencakup Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Kalimantan. Walaupun sentral operasi (MSC) di Yogyakarta yang mengontrol base transceiver station (BTS) wilayah selamat dari gempa, XL tidak perlu melakukan prosedur pengalihan panggilan ke MSC yang lain.

Namun, karena sulitnya koordinasi dengan wilayah Yogyakarta pada saat itu, koordinasi teknis jaringan wilayah gempa sesuai dengan prosedur tanggap darurat diambil alih oleh Network Operation Center (NOC) Jakarta. NOC ini yang memonitor dan memberikan update perkembangan jaringan Yogyakarta pascagempa.

Secara teknis, Sabtu pagi itu semua jaringan telekomunikasi mengalami overloaded. Untuk mengurangi kelebihan beban di wilayah gempa, Sabtu siang NOC melakukan prosedur perubahan konfigurasi base station controler (BSC) dari fullrate (16 Kbps) menjadi halfrate (8 Kbps).

Dengan perubahan ini, XL menambah kapasitas jaringan di wilayah DIY, dengan konsekuensi penurunan kualitas suara. Dalam keadaan darurat, XL lebih mementingkan jumlah pelanggan yang mampu dilayani daripada kualitas suara. Terbukti prosedur ini meningkatkan success call ratio pelanggan di daerah bencana.

Sabtu pagi itu cakupan XL di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya langsung kehilangan 8 BTS di daerah Bantul karena kerusakan fisik. Dengan berjalannya waktu, satu per satu BTS lain menyusul ikut mati dikarenakan blackout PLN di wilayah gempa. Hingga Sabtu malam sebanyak 58 BTS mati dikarenakan baterai cadangan habis dan genset belum bisa dipasang.

Sesuai dengan standar tanggap darurat, penyediaan genset dan personel untuk menghidupkan jaringan menjadi agenda utama sehingga dilakukanlah “impor” genset dan engineer “relawan” dari luar DIY.

Tim FOC wilayah tetangga terdekat, seperti Semarang, Cirebon, Purwakarta, ditambah dengan tim dari Jakarta dan Jawa Timur, didatangkan. Masing-masing tim menyerbu Yogyakarta dengan membawa bekal genset portabel.

Selain mengimpor para engineer, Yogyakarta juga meminjam FOC Manager dari Jawa Barat, untuk membantu FOC Manager Yogyakarta. Prosedur ini perlu dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada tim FOC Yogyakarta menyelamatkan dan mengungsikan keluarganya ke daerah lain.

Target minimal

Dari sisi teknis, prioritas pertama adalah menghidupkan BTS di daerah terparah dampak gempa, yaitu wilayah Bantul. Dari pantauan NOC Jakarta, dicatat semua BTS di Bantul mati. Targetnya, minimal ada dua BTS yang harus hidup. Strategi ini didasari pertimbangan untuk membantu komunikasi korban dan relawan di wilayah Bantul.

Memang, kerusakan BTS paling parah ada di daerah Bantul. Gempa telah meluluhlantakkan perangkat BTS , seperti kabinet, baterai yang sampai jatuh bergelimpangan di lantai.

Untuk kelancaran tim engineer yang kebanyakan dari luar Yogyakarta, kami memberikan petunjuk lokasi BTS plus peta, GPS untuk tracking lokasi BTS, serta perlengkapan standar engineer. Perlengkapan standar HT (handy talkie) yang sudah mulai dilupakan, dengan sigap dihidupkan lagi untuk berkoordinasi dan berkomunikasi.

Hasilnya, Sabtu, pukul 24.00, coverage XL di kota Bantul hidup kembali. Pada Minggu, kurang dari 36 jam setelah gempa, XL sukses mengembalikan hampir 90 persen kemampuan operasinya di daerah bencana.

Selain pekerjaan teknis, ada sejumlah aktivitas nonteknis pendukung yang dilakukan oleh tim logistik. Tim ini bertugas memasok makanan bagi rekannya, “penjaga” genset di area BTS dan bensin untuk menghidupkan genset. Tim logistik harus berkeliling tiga kali sehari, mengunjungi lokasi-lokasi tersebut. Mendapatkan logistik ternyata tak mudah. Pascagempa, Yogyakarta dilanda kelangkaan makanan dan bensin sehingga logistik harus diburu sampai Magelang dan Solo.

Selain mendapatkan pengalaman bekerja dalam situasi krisis, tim FOC juga memperoleh pengalaman lain yang sangat berharga. Tim, berfungsi ganda, sebagai tim relawan XL untuk menyalurkan bantuan dari XL Care kepada masyarakat di sekitar BTS XL. Dari tim yang bekerja di lapangan inilah tim XL Care memperoleh informasi daerah yang belum terjangkau dan membutuhkan bantuan logistik.

Oleh karena itu, tim ini mampu mendistribusikan bantuannya secara taktis. Tak cuma itu, rupanya genset juga memberikan manfaat bagi warga yang berada di sekitar BTS untuk men-charge ponselnya yang mati. Bahkan, warga di sekitar juga bisa menarik kabel dari genset ke tempat penampungan agar malam di penampungan tidak sepenuhnya gelap gulita.

Pulihnya jaringan dalam waktu yang singkat setidaknya memudahkan komunikasi bagi para pihak yang berkepentingan dalam pemulihan Yogyakarta. Dan yang cukup menyentak, ternyata dari 271 BTS yang ada di wilayah gempa, tak ada satu pun menaranya yang roboh. Memang, sejak awal BTS dirancang untuk tahan terhadap gempa seperti yang baru lalu.

Habib Mustain General Manager Field Operation Wilayah Central, PT Excelcomindo Pratama Tbk


About this entry