Pedas Membawa Nikmat…

Pedas membawa nikmat. Begitulah sebagian orang mendeskripsikan rasa pedas sebagai penggugah selera makan. Bagi penggemar rasa pedas, cabai merupakan bahan pokok yang tidak boleh tertinggal dalam mengolah makanan. Di kalangan masyarakat tertentu, cabai bahkan dianggap sebagai “obat manjur” jika seseorang sedang tidak berselera makan.

Sebagian masakan di Tanah Air memang tidak bisa lepas dari rasa pedas. Selain berbumbu kuat, cita rasa masakan Indonesia dikenal dengan rasa pedasnya. Salah satu masakan yang rasa pedasnya selangit adalah masakan dari Manado yang belakangan ini makin banyak dijumpai di Jakarta.

Karena pedasnya, bagi sebagian orang mencicipi masakan manado merupakan tantangan tersendiri. Selain rasa pedasnya yang menggiurkan, masakan manado juga banyak diwarnai rasa asam. Dua kombinasi rasa ini dianggap bisa meningkatkan selera makan seseorang. Tak heran jika banyak tempat yang menyediakan masakan khas manado ramai diburu orang.

Mencari tempat makan khas manado di Jakarta sangat mudah. Selain restoran-restoran besar, makanan khas manado yang banyak diburu orang juga ada di lantai IV jembatan ITC Mal Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan.

Tempat ini memang dikenal dengan kumpulan kios masakan manado. Di sepanjang lorong jembatan ITC Mal Ambasador, masakan manado mendominasi kios-kios makanan lainnya. Menurut Katty Palit (50), pemilik kios Colo-colo, ada 18 kios yang menyediakan masakan manado di tempat tersebut.

Kebanyakan para pemilik kios itu masih saling bersaudara. Di depan kios Colo-colo, misalnya, ada satu kios Mari Jo yang diusahakan Yeace Sumual (32), anak laki-laki Katty.

Begitu melintas di sepanjang lorong jembatan ITC Mal Ambasador pada waktu jam makan siang, tempat itu sudah ramai pengunjung yang ingin mengisi perut. Sementara itu deretan meja dan bangku sudah terisi penuh pembeli yang sedang makan. Jadi, jangan harap bisa makan sambil mengobrol lama karena orang lain sudah antre menggunakan meja. Sebagian besar pembeli di kawasan itu adalah karyawan dan orang-orang yang pergi berbelanja.

Serba pedas

Melihat beragam jenis masakan manado yang tersaji di kios-kios sungguh membangkitkan selera makan. Bermacam jenis sayur, ikan, dan daging ayam diolah menjadi puluhan jenis masakan yang berbeda-beda. Kios Colo-colo, misalnya, menyajikan 24 jenis masakan. Sementara Kios Anugrah menyediakan 15 jenis masakan, ditambah dengan makanan kecil lainnya.

Sebagian besar masakan yang disajikan di kios makanan manado berbumbu pedas. Untuk keperluan masakannya, setiap hari Katty harus membeli 15 kilogram cabai rawit dan cabai merah. Sementara Like Kindangen, pemilik kios Anugrah, harus membeli tujuh kilogram cabai setiap harinya.

Seperti sudah punya “pakem”, masakan manado yang disajikan oleh satu kios dengan kios lainnya rata-rata hampir sama. Bumbu yang selalu ada adalah daun jeruk, kemangi, bawang merah, jahe, jeruk nipis, sereh, dan cabai.

Menu utama seperti masakan woku, rica, tumis daun pepaya, pampis, bakwan jagung hampir selalu ada di setiap kios. Yang tidak ketinggalan adalah sambal dabu-dabu. Sambal yang terbuat dari potongan cabe rawit dan tomat ini wajib ada sebagai pendamping makanan yang akan dipesan.

Untuk membuat dabu-dabu, Katty membutuhkan tujuh kilogram cabai dan tujuh kilogram tomat merah dan hijau. Bagi Katty, makan masakan manado terasa hambar tanpa sambal dabu-dabu. Jadi, meski bibir terasa tebal karena kepedasan, sambal dabu-dabu selalu dicari orang.

Bagi yang menyukai rasa pedas menyengat, masakan woku bisa menjadi pilihan utama karena rasa pedasnya bisa membuat mata merem melek. Masakan woku ini bumbu utamanya jahe merah, kemangi, daun jeruk, bawang merah, sereh, dan tentu saja cabai. Woku biasanya terdiri dari dua macam, yaitu ayam woku dan woku cakalang. Woku cakalang berbahan dasar ikan cakalang, yaitu jenis ikan yang banyak ditemukan di wilayah perairan Sulawesi.

Selain woku, menu lain yang banyak dicari orang adalah telur ikan yang biasa dimasak rica-rica. Menurut Like, telur ikan dan bunga pepaya harus ada di kiosnya setiap hari karena banyak dicari orang. “Kalau enggak ada telur ikan dan bunga pepaya, masakan lain jadi kurang laku,” tutur Like.

Yang tidak kalah laris di kios masakan manado adalah masakan pampis. Masakan pampis ini bisa berbahan dasar ikan roa atau ikan cakalang. Pampis adalah ikan yang disuwir-suwir setelah dikukus. Ikan yang sudah disuwir itu lalu digoreng sampai kering dengan bumbu cabai, jahe, dan bawang merah. Menurut Katty, masakan pampis membutuhkan waktu hingga dua jam untuk mengolahnya. “Diantara jenis masakan lainnya, masakan pampis ini yang paling lama memasaknya,” kata Katty.

Di kios Colo-colo, masakan yang paling laku adalah pampis cakalang dan cumi. Sedangkan untuk sayurannya adalah tumis bunga pepaya, tumis jantung pisang, dan tumis daun pangi (daun kluwek).

Dari Manado

Menurut Katty, makanan manado mulai populer di Jakarta sejak tahun 2000. Melihat peluang itu, Katty dan saduara-saudaranya lalu membuka kios makanan manado. Beberapa bumbu dan bahan baku didatangkan dari Sulawesi Utara. Ikan roa, ikan cakalang, jeruk nipis manado, dan jahe merah, misalnya, didatangkan dari sana. Kata Katty, jeruk nipis manado kulitnya tipis halus dan rasanya lebih asam.

Untuk jahe merah, tidak selalu ada kiriman dari Manado, sehingga terpaksa diganti dengan jahe yang dibeli di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Karena bahan-bahan banyak didatangkan dari Manado, maka menurut Katty harga masakan manado relatif menjadi mahal.

Selain menyediakan masakan halal, beberapa pemilik kios juga membuka gerai lain untuk menyediakan masakan nonhalal. Masakan nonhalal ini berada di deretan belakang dari jalur utama koridor jembatan ITC dan memasang tulisan nonhalal. Menurut Katty, saat memasak kedua jenis masakan itu dilakukan di tempat terpisah. [Lusiana Indriasari]


About this entry