Mengarungi Laut Lepas Selama 80 Jam

SELAMA bertahun-tahun, gugusan pulau-pulau Sangihe dan Talaud terisolasi dari segala aspek, termasuk dalam hal telekomunikasi. Padahal, sebetulnya gugusan pulau di sana menyimpan sejumlah potensi yang justru lebih memesona daripada yang dibayangkan selama ini sebagai daerah “terpencil”.

INDAHNYA perpaduan cahaya lampu Kota Manado yang sangat memukau tampak dari kejauhan di tengah laut lepas. Semakin lama, cahaya lampu dari gedung, lampu penerangan jalan umum, dan kawasan reklamasi pantai semakin terlihat jelas. Bangunan di bibir pantai Manado mulai dari bulevar, pusat kota, hingga ke Pelabuhan Manado dan Pasar Jengki pun tampak semakin jelas.
Bunyi mesin kapal yang sedari tadi meraung-raung perlahan-lahan mereda. Berganti teriakan awak kapal, “Awas, tali tambang”. Tak lama tali tambang pun menjulur ke bawah dan dilempar ke arah daratan untuk segera diambil petugas pelabuhan di darat.

Kemudian, sekelompok buruh Pelabuhan Manado mengangkat semacam tangga yang terbuat dari kayu untuk jalan penumpang yang menghubungkan kapal dan dermaga pelabuhan. Di tempat itu sudah banyak penjemput yang menanti.

Lega rasanya hati ini karena akhirnya tiba juga di Manado setelah rombongan yang terdiri dari enam wartawan dari Jakarta mengarungi ganasnya lautan di gugusan pulau-pulau Sangihe dan Talaud pada musim angin barat.

Rombongan kami terdiri dari Leony Aurora (The Jakarta Post), Tatang S (mingguan Berita Buana), Isyanto (Sinar Harapan), Asni Ovier (Suara Pembaharuan), dan saya dari media cetak, ditambah reporter merangkap kamerawan Surya Citra Televisi (SCTV) Effendi Pijoh. Rombongan ini juga didampingi empat petugas dari PT Pasifik Satelit Nusantara selaku pengundang (dua di antaranya teknisi dari Kios Pasti Tomohon).

Kami baru saja bebas dari “penderitaan” selama 80 jam dengan hanya beristirahat sebentar di Desa Gemeh (Pulau Karakelang) selama enam jam, setelah memasang dua dari tiga jaringan telepon umum Pasti untuk daerah itu. Telepon umum itu bagian dari program Universal Service Obligation, bantuan pemerintah dari Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Perhubungan untuk daerah terisolasi.

Selebihnya, kami terombang- ambing di laut lepas dengan berganti-ganti perahu, mulai dari Kapal Motor (KM) Margareth, speedboat, kapal kayu Valentine I dan Valentine II. Kami juga harus singgah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya mulai dari Pelabuhan Manado, Salibabu, Lirung, Melong (untuk mengisi bahan bakar yang selalu langka di kawasan itu), Gemeh, dan balik lagi ke Melong, Lirung, Tahuna, Ulu Siau, dan kembali ke Pelabuhan Manado. Padahal, kalau mau, sebenarnya di Melong rombongan bisa menggunakan pesawat Merpati dengan jadwal penerbangan Selasa dan Kamis.

Dalam kondisi tubuh yang tidak fit, lelah, dan letih, kami hanya mengonsumsi makan sekenanya saja, termasuk lebih banyak mengonsumsi mi instan selama dalam perjalanan laut. Terkadang, kami bahkan harus mengingatkan terlebih dulu apa yang akan kami makan pada malam hari.

Air minum pun hanya dibatasi satu botol air mineral kemasan 600 mililiter untuk satu orang dalam setiap perjalanan dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Kalau mau tambah, ya harus menggunakan kocek sendiri.

Gelombang laut memang tak terlalu bersahabat dengan perjalanan kami. Sepertinya tidak ada pekerjaan lain untuk menghindari “siksaan” itu, kecuali berusaha menikmati perjalanan sembari ngobrol di atas anjungan sembari makan angin laut. Atau, “tidur ayam” sambil menikmati gelombang yang membuat seluruh isi perut mendesak-desak ingin ditumpahkan.

Memang banyak yang mengeluh pusing dan mual akibat goncangan ketika kapal menabrak ombak serta angin laut yang terlalu kencang. Apa boleh buat, itulah perjalanan yang harus diikuti untuk memberikan sarana telekomunikasi kepada warga di daerah terisolasi seperti gugusan kepulauan di ujung utara Sulawesi Utara. Tiga lokasi yang dipilih adalah Desa Gemeh, Taruan, dan Essang di Pulau Karakelang, Kabupaten Talaud. Namun, karena waktu yang terbatas, akhirnya rombongan kami hanya melihat pemasangan telepon Pasti (warung telekomunikasi di dalam rumah penduduk ) di Gemeh dan Taruan, sementara teknisi dari kios Tomohon meneruskan pekerjaan pemasangan jaringan telepon itu ke Essang.

UNTUK menuju ke dua desa tersebut, rombongan kami harus menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Begitu tiba di Bandara Sam Ratulangi Manado, Senin (29/11) pukul 13.45, rombongan dijemput teknisi PT PSN Kios Tomohon, Rudi Pijoh, dan langsung menuju ke Pelabuhan Manado. Sementara saya sendiri sudah tiba terlebih dahulu dengan menggunakan penerbangan serupa semalam sebelumnya karena kehabisan tiket untuk penerbangan Senin pagi. Kami bertemu di Pelabuhan Manado untuk bersama-sama rombongan menuju Talaud.

Rombongan tergesa-gesa menuju KM Margareth yang rencananya bertolak dari Manado ke Salibabu (Sangihe) pukul 15.00 WITA. Karena letak parkir KM Margareth tak merapat di bibir dermaga, terpaksa kami harus berjalan melewati dua kapal kayu lainnya. Pada saat surut, kapal tidak bisa bersandar secara normal di dermaga karena Pelabuhan Manado sudah mendangkal dan perlu penataan kembali.

Sayangnya, kami harus menunggu lama dalam kapal yang ternyata baru bertolak pukul 17.45. Padahal, waktu itu perut rombongan dari Jakarta belum diisi makan siang karena harus langsung menuju kapal.

“Ba tunggu jo sadiki. Torang blum dapa surat dari syahbandar (Tunggu sebentar karena kami belum mendapat surat dari syahbandar),” kata Kapten KM Margareth Amriral kepada sejumlah penumpang yang sudah bosan menunggu di atas kapal.

Dalam perjalanan semalam di antara gelombang menuju Salibabu, pihak KM Margareth memberikan nasi bungkus kepada setiap penumpang. Sementara kami sendiri dibekali dengan makanan sepotong ayam goreng, sambal, dan nasi putih yang dibeli dari penjaja makanan di kawasan pelabuhan. Panitia juga menyediakan piza.

Waktu berlalu. Kami baru tersadar (semalam minum obat antimabuk) begitu KM Margareth sandar di Pelabuhan Salibabu antara pukul 07.00 sampai 08.00). Tak lama berselang, pukul 11.00 kami menuju ke Lirung (Sangihe). Selanjutnya, berganti kapal lebih kecil lagi menuju Desa Gemeh (Talaud) di Pulau Karakelan dengan menggunakan speedboat kecil berkapasitas 10 orang yang disewa seharga Rp 1,5 juta.

Perjalanan dengan speedboat membutuhkan waktu empat jam. Kami sempat singgah di Melong (pulau yang berhadapan dengan Lirung) mengisi bahan bakar. Harga bensin di sana Rp 7.500 dan bisa mencapai Rp 10.000 per liter.

“Itu pun kalo ada. Lebe banya nyanda ada. Minyak salalu kosong (Itu pun kalau ada. Lebih banyak barang tidak ada),” kata Ungke, panggilan dari salah seorang awak speedboat.

“Pokoknya kalo dua minggu kapal yang jaga bawa minyak nyanda maso, siap-siap jo harga nae. Kadang barang ada mar dorang simpang, baru mo jual kalo so mahal,” tambah Ungke. Untuk menghemat bahan bakar, pemilik speedboat dan kapal kecil sering menggunakan minyak tanah sebagai pengganti bensin atau solar. Bensin dan solar hanya digunakan pertama kali ketika kapal dan speedboat dihidupkan.

Sekitar satu jam menunggu, kami menikmati makan siang di salah satu warung makan di pinggir pantai. Lepas mengisi bensin, rombongan langsung menuju ke Gemeh. Perjalanan menuju Gemeh menghabiskan waktu empat jam. Tiga jam di antaranya terombang-ambing di tengah laut dengan gelombang cukup besar dari perjalanan sebelumnya. Goncangan semakin terasa saat speedboat menabrak ombak.

Akhirnya, rombongan kami tiba dan disambut sebuah papan kedatangan “Imbe Su Malambe U” dan langsung menuju ke rumah Opo Lao, Kepala Desa Gemeh Julian Anderson Ambana, yang miskin fasilitas sarana komunikasi. “Torang pernah dapa satu kali bantuan telepon Pasti dari pengusaha lewat Pemerintah Daerah Sulut. Mar itu telepon so rusak. Skarang lagi perbaiki di Manado. (Kami pernah sekali mendapat bantuan telepon Pasti dari pengusaha lewat Pemda Sulut. Tetapi sekarang ini telepon itu dalam kondisi rusak),” kata Ambana.

Diantar Opo Lao, kami langsung mencari lokasi tempat pemasangan telepon Pasti. Dipilihlah rumah Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Elmar Laira. Dibutuhkan waktu selama satu jam untuk memasang jaringan telepon umum tersebut. Selanjutnya, satu telepon lagi dipasang di Desa Tatruran, sekitar satu sampai dua kilometer dari Gemeh (lewat darat).

Begitu telepon terpasang, warga terlihat antusias berdatangan memanfaatkan fasilitas telekomunikasi untuk mengontak sanak keluarga dan anak yang bersekolah di kawasan Sangihe dan Talaud serta Manado. Oleh tuan rumah, kami disuguhi makan malam ikan bakar jenis terbang berikur sambal dabu-dabu dan sayur ganemo yang sedap.

Malam itu kami mendapat kabar, KM Ratu Maria, yang akan kami tumpangi pulang ke Manado dari Lirung, terpaksa kembali ke Manado dan tidak melanjutkan perjalanan ke Lirung karena mesin rusak. Kami sempat panik juga mau pulang dengan apa.

HANYA enam jam kami bisa tidur nyenyak tidak di atas gelombang laut. Pukul 06.00, semuanya sudah mulai bersiap- siap berangkat lagi menuju Lirung. Awalnya, rencana keberangkatan lebih pagi dibandingkan dengan rencana semula pukul 10.00 untuk mengejar kapal kayu Valentine II sebagai pengganti KM Ratu Maria.

Hujan pertama kali selama sepuluh bulan turun sehingga persiapan kami terganggu sejenak. Begitu rombongan menuju speedboat ternyata speedboat mengalami kekurangan minyak. Sama dengan Lirung, Gemeh juga mengalami kendala bahan bakar.

Setelah menunggu, akhirnya kami berangkat juga ke Lirung dengan kondisi bahan bakar terbatas hanya sampai di Melong. Kali ini perjalanan lebih berat dibandingkan ketika datang karena harus melawan gelombang. Karena kecapekan, sebagian besar dari kami tertidur akibat mengonsumsi obat antimabuk.

Sesampai di Melong, kami sempat makan di warung makan yang sama ketika mau ke Gemeh. Zulban dan Ghea dari PT PSN terus berupaya memperoleh informasi mengenai keberangkatan kapal kayu Valentine II.

Ketika mendengar informasi bahwa perjalanan dengan Valentine membutuhkan waktu tiga hari dua malam, tubuh ini rasanya lemas. Dua hari tiga malam harus berjuang lagi di tengah arus gelombang? Mau jadi apa badan ini? Berbagai pikiran muncul di kepala, apakah kami masih mampu sampai ke Manado dan Jakarta? Sebab, menurut perkiraan kami baru tiba di Manado Jumat sekitar pukul 01.00. Sementara rombongan harus bertolak ke Jakarta pukul 14.00 hari berikutnya.

Tatang, Leony, Effendi, dan saya mengusulkan menggunakan pesawat dari Melong saja karena jadwal penerbangan Merpati Fokker berangkat dari Melong-Manado Selasa dan Kamis. Hari itu masih Rabu siang. Kepada panitia, kami menyatakan rasanya tak sanggup lagi berada di tengah gelombang selama tiga hari dua malam. Untuk itu, kami juga menawarkan biaya sendiri.

Leony yang sudah mabuk laut, Tatang, dan saya menghubungi pihak Bandara Melong lewat operator Telkom Tahuna (0433). Sayangnya, karena pesanan tiket mendadak dan sudah agak kesiangan (sekitar pukul 14.00), pesawat sudah penuh.

Akhirnya kami ikut juga ke Lirung meski tubuh benar-benar sudah lemas. Goncangan ombak sangat terasa di kapal kayu yang kami tumpangi. Karena tak mendapat kamar, kami terpaksa tiduran di anjungan.

Angin berembus sangat kencang dan gelombang tidak bersahabat. Hujan turun sehingga terpal diturunkan dan menghalangi pemandangan lautan serta gugusan pulau yang masih tampak. Karena kondisi tubuh tidak fit, ditambah makan sekenanya saja, Leony muntah- muntah.

Tiba di Tahuna pukul 01.00, kapal berangkat pukul 07.00. Dalam kondisi mabuk dan perut kosong, kami memaksa mencari warung makan di pinggir pelabuhan. Beruntung ada satu warung yang masih buka. Sayangnya, kami harus menunggu satu setengah jam untuk makan karena nasi baru mau dimasak.

Kapal bertolak ke Ulu Siau pukul 07.30. Sebelum bertolak, saya sempat membeli rokok Philipina seharga Rp 15.000 per slof (isi 12) yang dijual bebas tanpa pajak. Rokok itu dibungkus dengan koran supaya tidak terlihat petugas karena dilarang membeli dalam jumlah banyak.

Tiba di Ulu Siau, kami harus pindah kapal kayu lainnya, Valentine I untuk melanjutkan perjalanan ke Manado. Beruntung karena kami dapat kamar milik anak buah kapal yang disewa Rp 80.000 per kamar. Kamar lebih besar daripada kapal-kapal sebelumnya.

Di Ulu Siau kami sempat melihat gunung api aktif Karengetan yang masih mengeluarkan asap putih. Kapal baru berangkat dari Siau jam 17.00.

Selama beberapa hari dalam perjalanan kapal kami tidak pernah mandi. Tidak ada yang tahan dengan bau pesing dalam kamar mandi. Belum lagi kamar mandi jorok. Kami baru bisa cuci muka ketika tiba di suatu pelabuhan dan pelabuhan lain.

Dari jauh sudah terdengar storm kapal yang menandakan sudah siap menyandar di Manado. Lagu Balada Pelaut terdengar samar-samar dari jauh. Manado sudah di depan mata. Selamat tinggal penderitaan dalam laut. (pingkan elita dundu)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/21/Jendela/1448136.htm


About this entry