Programmer … oh Programmer

Ada hal klasik pada saat karier seseorang dimulai.
1. Seseorang tidak akan mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki pengalaman
2. Seseorang juga tidak akan mendapatkan pengalaman tanpa pekerjaan.
Fakta: tidak ada sekolah yang bisa menyediakan tenaga yang benar-benar siap pakai. Hal ini, pasti terjadi pada seorang programmer pertama kali.

Seorang programmer, pada awalnya pasti membayangkan bahwa pekerjaan sehari-harinya adalah 75% coding. Kenyataannya, justru kebanyakan waktunya dihabiskan untuk meeting dengan bagian lain. Dunia perusahaan selalu berhubungan erat dengan: birokrasi, politik, marketing, manajemen yang “clueless”, dan semua hal yang tidak berhubungan dengan keahlian membuat kode pemrograman.

Programmer selalu beranggapan bahwa “kesempurnaan teknis” adalah satu-satunya yang bernilai dan diperhitungkan. Walaupun mereka dibayar dengan cukup baik oleh perusahaan, tetapi — tolong diperhatikan — perusahaan tidak pernah melihat bagaimana hebatnya “kesempurnaan teknis” programmer tersebut.

Prinsip dalam dunia bisnis: It’s all about the money. Software hanyalah sebuah produk, tidak lebih. Bukan sesuatu yang berseni tinggi. Bukan sesuatu yang hebat. Hanya sesuatu yang akan diberikan pada customer dan akan menjadi bagian dari mencari keuntungan. Ini yang membuat programmer merasa terjun ke dunia terasing atau ke dalam air keruh.

Jadi mulai saat ini, programmer harus berpikiran sama dengan para bisnisman: It’s all about the money. Pasti pandangan terhadap karier anda akan berubah. Kapitalis? Apa lagi? [www.sunaryohadi.info]


About this entry